METRI dusun (bersih
desa) atau populer dengan sebutan acara sedekah bumi Desa Tawang, Kecamatan
Susukan, Kabupaten Semarang, dilakukan setahun sekali. Tradisi yang
dilaksanakan sejak ratusan tahun itu dilaksanakan dengan upacara arak-arakan
delapan buah gunungan, diiringi seni kuda lumping dan reog.
Acara bersih desa ini biasanya dihadiri juga dari jajaran Muspika, Muspida, beberapa kali Bupati Kabupaten semaran juga hadir dan juga tokoh tokoh masyarakat lainya
Undangan dari jajaran Muspika , Muspida Dll
Arak-arakan sepanjang satu kilometer itu belum lama
ini kembali dilaksanakan. Delapan gunungan sesaji berisi berbagai macam makanan
dan buah-buahan dengan aneka hiasan dipersembahkan setahun sekali setelah warga
desa panen raya padi.
Menurut warga, ancak
beserta prosesinya itu ada maknanya sendiri-sendiri. Ancak atau regang
terbuat dari bambu dan kayu, berbentuk persegi empat, berisi makanan untuk dibawa ke Balai desa sebagai bentuk rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
Masyarakat Desa Tawang melestarikan tradisi itu
sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen. Melalui tradisi itu
diharapkan tahun mendatang lebih berhasil dan petani semakin sejahtera.
Ibu ibu PKK yang ikut terlibat , membawa makanan berupa buah dan hasil bumi lainya
Semua kesenian tumpah ruah di Lapangan Desa Tawang
Suasana Jalan Yang padat dengan pengunjung dari berbagai daerah
Ibu ibu PKK yang ikut terlibat , membawa makanan berupa buah dan hasil bumi lainya
Semua kesenian tumpah ruah di Lapangan Desa Tawang
Suasana Jalan Yang padat dengan pengunjung dari berbagai daerah
Tradisi sedekah bumi untuk Mengungkapkan rasa syuukur, kata Ki Sandi Guno
Drimas, pemuka masyarakat setempat. Besih desa Kali pertama dilakukan Pak Polo, yaitu
pada zamannya Kanjeng Susuhunan Paku Buwono VII atau pada zaman pujangga Ronggo
Warsito.
Pelaksanaan kegiatan itu pada 2 Februari 1852 M (13 Jumadil Akhir Tahun Dal/1782 H). Penetepan ini berdasarkan buku Serat Kolo Tidho Sekar Sinom bab XI.

